Pentingnya Memahami Quran

Mukadimah:

Innal hamda lillah, Sesungguhnya pujian adalah milik لَلهّ.  kami memujiNya, kami meminta dan mohon ampun hanya padaNya. Kami memohon perlindungan pada لَلهّ dari keburukan2 diri kami dan dari akibat dosa2 kami.

Barangsiapa yang diberi petunjuk لَلهّ, maka dia tidak akan sesat. Dan siapa yang disesatkanNya maka

tidak ada petunjuk baginya.

Asyhadu alla illah ha illalah wa asyhadu anna muhammad rasullulah. Allohumma sholli ala Muhammad, wa ala ali Muhammad. Amma badu.

Kultum:

Saudara2ku yang dirahmati Allah,

Kultum saya ini adalah mengenai pentingnya pemahaman bahasa dalam Quran.  Teman saya, pak Istanto, memberi analogi, seandainya Quran itu obat, yg ditulis isi dan cara pakainya dalam bahasa Perancis, yg tidak kita mengerti, maka bagaimana kita bisa minum obat itu kalau kita tidak kenal bahasanya?  Bisa jadi gagal minum obat, atau salah dosis, atau bahkan salah obat.

Nah di bulan Ramadhan ini, ada program2 khatam Quran, dilakukan 1 juz per hari, ada yg 3 juz perhari dst.  Ada juga kasus balapan baca antara Ibu dan Anak.  Ini adalah gejala umum, mengapa banyak yg adu khatam Quran di bulan Ramadhan ini.

Manakah yg lebih penting atau lebih utama, khatam Quran atau Paham Quran? 

Quran 38:29: “Kitab yg Kami turunkan kepadamu (Muhammad) yg penuh berkah agar mereka memperhatikan makna2 ayatnya (tadabbur)”.  Allah memerintahkan kita untuk memperhatikan mempelajari mencari makna2nya agar berkah dari Quran dapat terwujud.

Sabda Nabi: “Barangsiapa yg baca Quran dan ia mahir (paham), ia bersama para Malaikat yg berbuat baik.”  Disini Nabi menekankan bahwa pembacaan Quran yg disertai pemahaman, barulah ia mendapatkan pahala, yaitu ia bersama para Malaikat yg berbuat baik.

Juga perhatikan /renungkan hadis ini: “Barangsiapa yg dikehendaki Allah kebaikan, maka akan difahamkannya agama” (HR Mutafaq alaih).  Bagaimana mau paham agama, kalau tidak paham al Quran?

Ali bin Abi Thalib suatu ketika memberikan peringatan mengenai hal ini: “Tidak ada manfaat jika membaca (Quran) tanpa tafsirnya”.  Apa maksud tafsir ini?  Imam Syafei, memberikan makna Tafsir artinya “menjelaskan secara rinci”, yaitu dengan cara:

a. Menyingkap arti dari sisi bahasa (menterjemahkan, definisi kata dari segi bahasa, contoh kalimat dst)

b. Penjelasan ayat dengan ayat,

d. Penjelasan ayat dengan hadis

d. Penjelasan ayat dilihat dari sejarah turunnya ayat tersebut

Said bin Jubair, seorang ahli hadis, murid Ibnu Abbas, sahabat Nabi, telah memberikan peringatan: “Siapa yg membaca Quran tapi tidak mentafsirkannya, ia seperti orang buta, atau seperti orang pedalaman” Maksudnya karena dia hanya sekedar membaca maka ia tidak bisa mendapat penerangan atau tuntunan hidup dari Quran, ia tidak bisa melihat kebijaksanaan Quran, tidak bisa melihat kearifan Quran dan kemuliaan Quran, tidak bisa melihat keindahan Quran.   Jadi ia bagaikan orang yg tertinggal ilmu dan peradaban, seperti halnya orang tinggal di pedalaman yg sulit dijangkau dan tidak memiliki komunikasi.

Harap dicatat Said bin Jubair ini orang Arab.  Pastilah ketika ia membaca Quran, ia tahu artinya…Bagaimana dengan kita, yg sekedar melafaskannya saja…bagaikan orang yg melafaskan lagu asing (Korea)..tidak tahu artinya, hanya indah iramanya saja…

Menurut Ibn Taimiyah, “belajar Quran adalah mempelajari bacanya (huruf/kata2) dan maknanya sekaligus, bahkan mempelajari maknanya harus didahulukan,” persis seperti kata2 Umar bin Khattab:”Kami belajar Iman baru belajar Al Quran; Jadi Kami mengetahui persis apa keinginan Allah.” 

Ibn Qoyum mengatakan :”Tidak ada yg lebih bermanfaat bagi hati atau akal manusia kecuali tadabbur Quran”  Tadabbur adalah pedalaman makna dengan mengerahkan segenap kemampuan hati dan pikiran.  Ibnu Kudamah mengatakan: ”Tadabbur adalah tujuan paling utama dari (membaca) Quran.  Jika anda belum paham, maka ulang2ilah satu ayat untuk tadabbur.”

Saudara2ku yg dirahmati Allah,

Dengan melalui makna, maka akal dapat menerima hujah2nya, hati dapat tersentuh, dan jiwa terbasuh. Dengan sendirinya anggota badan akan tergerak termotivasi untuk melaksanakan apa yg diminta oleh Allah SWT.  Bagaimana mungkin mulut menyampaikan, tangan dan kaki kita tergerak, ketika kita hanya mendengar lantunannya, namun tidak paham pada maknanya.

Oleh karena itu, lebih tegas lagi Ibn Qoyum, mengatakan. “Ketahuilan membaca 1 ayat diulang2 dengan tadabbur lebih baik daripada membaca 30 Juz.  Membaca (Quran) tanpa berfikir dan tanpa tadabbur tidak ada gunanya, walaupun membaca seluruh Quran.”

Berikutnya, saya akan menambahkan sedikit cerita tentang Ibu RA Kartini.  Cerita tentang guru Kartini yaitu Kiai Sholeh Darat.

Kiai Sholeh Darat (1820-1903) adalah ulama dari daerah Semarang.  Ia merupakan guru dari KH Hasyim Ashari (pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhamadiyah), dan juga RA Kartini sendiri.   Beliau menterjemahkan tafsir Quran, yg diberi nama Faid Ar Rahman, tafsir Quran pertama yg menggunakan huruf pegon, atau bahasa Jawa tetapi dalam huruf Arab.

Pada era 1800an penjajah Belanda melarang orang menterjemahkan Quran, hanya boleh membaca (melantunkan) tanpa disertai terjemah.

Berikut keluhan RA Kartini kepada teman penanya Stella:

Bagaimana aku akan dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Alqur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa-pun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Disini orang diajar membaca Alqur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gila kah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).

Nah, kitab tafsir inilah yg dihadiahkan pada RA Kartini sebagai kado pernikahannya.  RA Kartini berkata:”Selama ini surat Al Fatihah gelap bagi saya, saya tidak mengerti sedikitpun akan maknanya, tetapi sejak hari ini ia menjadi terang benderang sampai kepada maknanya yg tesirat sekalipun, karena Romo Kiai menjelaskan dalam bhs Jawa yg saya pahami.”

Kiai Sholeh Darat senantiasa mengajak masyarakat agar gemar menuntut ilmu.  Beliau berkata: “Intisari al Quran adalah dorongan kepada umat manusia agar menggunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat.” Ini adalah suatu kesimpulan yg luar biasa, yg hanya bisa didapat apabila seseorang benar2 mendalami dan memahami isi al Quran.

RA Kartini sendiri sangat terkesan dengan ayat “Minad dhulumatin illa Nur” (Quran surah 65:11) yang artinya “Dari banyak kegelapan menuju satu Cahaya (yaitu Islam)”.  Perhatikan bahwa kata “dhulumat” adalah prural/jamak, “banyak kegelapan” bukan hanya “(satu) kegelapan” saja (singular).  Maknanya, bahwa kesesatan itu banyak sekali jenisnya.  Kekafiran, kemuysrikan, kemunafikan itu banyak macamnya. Komunis, Kapitalis, Pruralis, Feminis, Sosialis, paham2 agama diluar Islam, dst. Paham diluar Islam, sangatlah banyak.  Akan tetapi Allah menolak semua paham itu kecuali Islam. 

Demikianlah jelas pada para hadirin sekalian, dari penjabaran dan contoh diatas, agar kita menitik beratkan pada pengertian, pemahaman, penjelasan yg panjang lebar daripada hanya lantunan bacaan Quran belaka.

Ilustrasi yang berikut saya ambilkan dari Surah Al Baqarah ayat 30:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kpd para malaikat: “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi” Mereka berkata:  “Apakah Engkau hendak menjadikan org yg merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami  bertasbih memujiMu dan mensucikan namaMu?”  Ia berfirman: “Sungguh, Aku mengetahui apa yg tidak kamu ketahui”

Saudara2 ku yg dirahmati Allah, ada beberapa pemahaman tentang ayat ini sbb:

1. Ada yg mengatakan bahwa Allah itu demokratis, membolehkan malaikat mengutarakan suaranya, atau protes terhadap keputusanNya! Ada juga yg mengatakan malaikat mengatakan ini karena Malaikat iri terhadap manusia karena dijadikan penguasa.

Allahu Akbar! Allah Maha Bijaksana, dan Maha Memiliki Ilmu, tidak perlu menambah ilmu dari manusia, yaitu demokrasi.    Dan Tidak! Malaikat bukanlah protes, akan tetapi, Malaikat sebagai mahluk yg pintar meminta penjelasan lebih lanjut, karena “khalifah” itu berarti “Penegak Hukum.” Jadi kalau Allah menjadikan seseorang sebagai Penegak Hukum, pastilah akan ada pelanggaran hukum.

2. Banyak sekali orang yg mengatakan bahwa manusia di bumi adalah khalifah-khalifah Allah atau wakil wakil Allah di permukaan bumi.

Bukan seperti itu, karena kata “Khalifah” adalah bentuk single bukan prural, jamak.  Berarti yg diangkat hanyalah satu orang.  Ini ayat adalah tentang leadership, yang tentu saja satu, bukan dua pemenang seperti yg diklaim terlalu awal pada pemilu 2014.  Juga bukan banyak pemimpin/penguasa.

Bagaimana keterangan soal khalifah/leadership ini? Hal ini ditegaskan atau dijelaskan lagi pada Quran 38:26

“Allah berfirman: “Wahai Daud, Sesungguhnya *Engkau* Kami jadikan khalifah (penguasa, penegak hukum) di bumi, maka berilah keputusan perkara diantara manusia dengan hak, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang2 yg sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Jadi jelaslah khalifah adalah satu orang yg ditunjuk sebagi pemimpin, penguasa, penegak hukum, dan ia tentu saja memiliki kekuatan (tentara, polisi) untuk melakukan hal tsb.

Juga disini dijelaskan fungsi dari khalifah, yaitu memutuskan perkara/persoalan/perselisihan yang terjadi diantara umat manusia dengan ilmu (Quran dan Hadis).

3. “Tufsidu” = orang2 yg merusak;  Merusak apa? Apakah maknanya manusia akan membuat polusi/kerusakan, seperti polusi di daratan dan lautan?  Bukan seperti itu, makna yg tepat adalah: Orang2 yang menyelewengkan firman Allah. Menyelewengkan, mendistorsi, menghapus, mengganti, menjelekkan firman Allah.  Mengatakan ini dari ALlah, padahal itu dari tangan/dibuat oleh tangan manusia sendiri.  Fenomena ini gencar terjadi pada saat ini, contohnya sebenarnya seperti yg disebut pada awal kultum ini, berlomba2 khatam al Quran.  Kelihatannya baik, padahal bertentangan dengan kaidah2 Islam itu sendiri.

Kesimpulan:

Jelaslah saudara2ku sekalian, praktek2 utk adu cepat baca Quran, atau program khatam2an adalah suatu praktek atau program yg kosong belaka.  Suatu kesia2an, bahkan dapat menjatuhkan diri kita lebih buruk dari itu, YAITU ditolaknya amal kita karena tidak didasarkan oleh ilmu yg benar. Naudzubillah min zalik.

Saudara2ku yg dimuliakan ALlah!  Dengan bersikap kita mempelajari Quran secara mendalam, maka kita bisa menggali ilmu al Quran, dan hanya dengan menggali ilmu al Quran inilah kita bisa keluar dari kegelapan, kesia2an hidup;  Apabila masing2 diri kita ini menjadi pembelajar sejati, kelak akan timbul kembali ilmuwan2 Islam, baik dibidang agama maupun ilmu pengetahuan.  Hanya dengan cara mempelajari ilmu inilah peradaban Islam dapat bangkit kembali.

Demikianlah yg dapat saya sampaikan,  semoga bermanfaat, dan mohon maaf atas kesalahan yg ada pada diri saya.

WABILLAHITAUFIK WAL HIDAYAH, WASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAH WABAROKATUH.

(Disarikan dari pengajian Al Ikhlas, yg dipimpin oleh Ust Debby Nasution )

~ oleh zamanakhir pada 23 Juli 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: